Halaman

Selasa, 03 September 2013

TERBAHAK-BAHAK



TERBAHAK-BAHAK

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW melewati kerumunan orang yang sedang bergurau sambil tertawa terbahak-bahak, lalu Rasulullah mengingatkan mereka: “Mengapa kalian tertawa terbahak-bahak, sedangkan api neraka mengintai di belakang kalian? Demi Allah aku tidak senang melihat kalian tertawa seperti itu."

Dalam hadis lain dikisahkan, Nabi menghampiri sekelompok orang tengah bercanda sambil tertawa terbahak-bahak seraya mengucapkan salam kepada mereka. Setelah mereka menjawab salam, Nabi mengingatkan: “Ingatlah, demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian mengetahui sebagaimana apa yang aku ketahui, maka kalian akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.”

Seketika itu mereka diam. Nabi berpamitan meninggalkan mereka, lalu para sahabat itu tenggelam dalam tafakur sambil merenungi teguran Nabi. Dalam hadis lain Nabi bersabda, “Orang yang tertawa terbahak-bahak akan dicabut berkah dari wajahnya.” Dalam satu qaul disebutkan, “Bulan suci Ramadhan adalah bulan untuk menangisi dosa-dosa masa lampau.”

Tertawa itu manusiawi, tetapi Nabi membedakan dua macam tertawa. Ada tertawa dalam arti tersenyum (al-basyasyah) dan tertawa terbahak-bahak (al-dhahhaq). Tertawa pertama dianjurkan, bahkan dinyatakan dalam hadis: Al-Basyasyath sunnah (Tersenyum itu sunat).

Dalam satu riwayat lain dikatakan, Al-basyasyah shadaqah (Memberi senyum kepada orang itu sedekah). Karena itu, kita dianjurkan untuk lebih banyak tersenyum sebagai salah satu wujud silaturrahim kita kepada sesama umat manusia tanpa membedakan jenis kelamin, etnis, dan agama.

Hal yang memprihatinkan kita ialah banyak sekali kita disuguhkan pemandangan selama bulan Ramadhan dengan tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya pada waktu siang, melainkan juga pada waktu malam yang seharusnya kita banyak bermuhasabah dan bermujahadah, mengingat kematian, mengingat dosa-dosa, dan membayangkan neraka yang selalu mengintip kita, malah digunakan untuk tertawa dan mabuk-mabukan di depan kamera atau di depan televisi.

Lihatlah pada hampir semua program TV dipadati dengan lawak dan banyolan sepanjang malam. Sejumlah program TV dan radio seolah mengajak para pemirsa dan pendengarnya untuk mabuk-mabukan. Hal ini pasti tidak sejalan, bahkan bertentangan dengan harapan Rasulullah SAW.

Saat-saat menjelang sahur seharusnya kita semakin syahdu mencari berkah tengah malam. Kalau perlu, tersungkur menangisi dosa dan kegelapan masa lampau kita mumpung masih bulan suci Ramadhan. Kita memohon pengampunan terhadap “kegilaan” masa lampau yang pernah kita lakukan. Bukannya kita menyerupai orang mabuk di tengah keheningan malam Ramadhan.

Semua pihak seharusnya merenung dan memikirkan hal ini. Terutama kepada para pemilik TV, sponsor, sutradara, pemain, dan semua pihak yang mendukungnya, termasuk para pemirsa yang ikut mabuk di depan TV mereka masing-masing.

Mengapa mereka berani menjual “kegilaan” di keheningan malam Ramadhan. Itu bisa diartikan sebagai pelecehan malam kemuliaan Ramadhan (lailatul qadar). Jangan-jangan ini lebih besar dampak negatifnya daripada rumah-rumah hiburan malam yang dikunjungi segelintir orang.

Apakah ada berkah uang dan rezeki yang diperoleh melalui pelanggaran etika spiritual seperti itu? Hal yang memabukkan (al-muskir) bukan hanya secara harfiah berarti zat yang memabukkan, seperti minuman keras ataupun narkoba, melainkan keadaan tertentu yang diciptakan menyebabkan kita mabuk kesetanan dan lupa terhadap Tuhan. Itu juga bisa disebut al-muskir. Ingat hadis Nabi: Kulu muskirun haramun (Segala sesuatu yang memabukkan itu haram.”

Ingat hadis lain: “Setiap darah-daging yang tumbuh di dalam diri berasal dari yang haram hanya akan bisa dibersihkan dengan api neraka.” Na’udzubillah.

Dalam keheningan malam, Alquran mengimbau kita untuk merenung, kalau perlu disertai air mata, seperti dalam firman-Nya: "Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis." (QS al-Isra [17]: 109). "Mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis." (QS Maryam [19]: 58).

SOGOKAN SETAN



SOGOKAN SETAN

Di kalangan Bani Israil ada seorang ahli ibadah (‘abid). Ia didatangi kaumnya yang menginformasikan bahwa ada sekelompok orang yang menyembah pohon besar.

Mendengar pohon disembah, ahli ibadah itu merasa kesal dan marah, lalu mengambil kapak untuk menebang dan menumbangkan pohon itu.

Dalam perjalanan menuju pohon itu, ia bertemu dengan  Iblis (setan) yang menyerupai seorang syeikh. "Hendak kemana kau pergi?" tanya Iblis. "Saya akan menebang pohon yang telah menyesatkan banyak orang itu?" jawabnya.
   
Setan berdiri di depan pohon itu untuk menghalangi sang ahli ibadah agar tidak mendekatinya seraya berkata: "Aku tidak akan membiarkanmu menebang pohon ini. Apa urusanmu dengan mereka. Biarkanlah mereka bebas menyembah apa yang mereka inginkan."

Ahli ibadah itu menyergah: "Bagaimana aku membiarkan mereka tersesat; sementara tugasku adalah membebaskan mereka dari kemusyrikan menuju ketauhidan."

Keduanya kemudian terlibat duel. Ahli ibadah mampu mengalahkan setan. Karena kelelahan, ia tidak jadi menebang pohon itu, lalu pulang ke rumah. Pada hari berikutnya, ia kembali membawa kampak untuk menebang pohon.
Iblis kembali muncul dengan wujud seorang syeikh, dan kembali mengalanginya untuk menebang. Iblis tahu ahli ibadah itu miskin. Iblis lalu merayunya untuk tidak menebang pohon  kemusyrikan itu dengan iming-iming uang.
"Hai ahli ibadah, sebaiknya engkau tidak usah menebang pohon. Sebagai gantinya, engkau akan kuberi dua dinar setiap hari. Engkau miskin. Dengan dua dinar itu engkau dapat memenuhi kebutuhanmu sehari-hari," rayu Iblis.
   
Keduanya pun mencapai kata sepakat. Ahli ibadah itu menerima dua dinar pada hari pertama dan kedua. Pada hari ketiga, ia gigit jari karena Iblis tidak lagi memberinya dua dinar. Ia kembali marah dan menghunuskan kampak.

"Aku harus menebang pohon ini sampai akar-akarnya," gumam ahli ibadah. Iblis kembali muncul menghalanginya. "Kali ini engkau tidak akan bisa menebang pohon itu, wahai ahli ibadah!" Maka terjadilah perkelaihan, dan kali ini ahli ahli ibadah bertekuk lutut di hadapan Iblis.
   
Ahli ibadah itu bertanya, "Kenapa engkau kali ini bisa mengalahkanku, padahal sebelumnya aku dengan mudah dapat mengalahkanmu?"

"Kemarin lusa engkau dapat mengalahkanku lantaran engkau marah semata-mata karena Allah. Allah melindungimu dan memberimu kemenangan karena engkau ikhlas. Kali ini engkau kalah sebab engkau marah karena tidak lagi menerima dua dinar dariku."
    
Sepenggal kisah tersebut memberi pelajaran berharga bagi kita bahwa Iblis (setan) tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat manusia berbuat kebaikan. Ia selalu menggoda, merayu, dan menyesatkan.

Sogokan setan terhadap ahli ibadah yang miskin tersebut tidak hanya menyurutkan langkah dakwahnya untuk memerangi kemusyrikan, tetapi juga menyebabkannya menjadi pecundang.
    
Sogokan setan itu luar biasa dahsyat dan memikat. Setan akan mengiming-imingi harta jika calon korban itu miskin atau rakus harta; merayu dengan kenikmatan perempuan jika yang disogok itu gila perempuan, ditawari jabatan jika yang dirayu itu gila jabatan, dan sebagainya.

Jika manusia sudah terperangkap sogokan setan, hatinya menjadi buta. Nuraninya mati, dan hidupnya menjadi pengabdi setan.

Oleh karena itu, Allah SWT berfirman: "Bukankah Aku telah memerintahkanmu wahai Bani Adam agar kamu tidak menyembah setan? Setan itu sungguh musuh yang nyata bagimu. Dan hendaklah kamu beribadah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus." (QS Yaasin [36]: 60-61).

Setan selalu menggoda manusia dari segala penjuru: depan-belakang dan kanan-kiri. Cara untuk membentengi diri dari sogokan setan yang selalu membisikkan kejahatan dalam diri manusia (QS an-Nas [114]: 5) adalah meluruskan niat (ikhlas semata-mata karena Allah), karena segala perbuatan itu sangat ditentukan oleh niatnya (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Ingatlah bahwa proyek besar setan adalah menyesatkan manusia kecuali segelintir hamba Allah yang mukhlis (yang kebal sogokan setan)

(QS Al-Hijr [15]: 39-40).




Keikhlasan niat dan amal perbuatan, semata-mata mencari ridha-Nya, akan memancarkan sinar dan sinyal Ilahi (nurani) yang senantisa menyuarakan dan menyerukan kepada jalan yang benar. Ketidakikhlasan dalam berniat, berbuat, dan beramal merupakan  salah satu pintu masuk sogokan setan.

Semoga kita semua tidak mudah terperangkap oleh sogokan setan yang menyesatkan! Wallahu a’lam bish shawab.

ISTERI SHOLIHAH DAN CERDAS



ISTERI SHOLIHAH DAN CERDAS

Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan, “Suatu hari anak Abu Thalhah dari (ibu) Ummu Sulaim meninggal dunia. Lalu, Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya, ‘Jangan kalian bercerita kepada Abu Thalhah perihal anaknya itu. Biar aku sendiri yang akan menceritakan kepadanya.”

Begitu Abu Thalhah datang dari suatu bepergian, Ummu Sulaim menghidangkan santap makan malam kepadanya. Setelah Abu Thalhah makan dan minum dengan puas, Ummu Sulaim pergi ke kamar untuk bersolek secantik mungkin. Abu Thalhah pun mempergaulinya sebagaimana pasangan suami-istri.

Setelah melihat suaminya merasa kenyang dan terpuaskan, Ummu Sulaim berkata penuh kelembutan, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu jika ada satu kaum meminjamkan barangnya kepada suatu keluarga, misalnya, kemudian mereka meminta kembali barang yang dipinjamkan tersebut, apakah keluarga tersebut dibenarkan menolaknya?”

Abu Thalhah menjawab, “Tidak.” Ummu Sulaim berkata, “Kalau begitu tabahkanlah hatimu dengan kematian anakmu.” Mendengar hal itu, karuan saja Abu Thalhah menjadi marah, seraya berkata, “Kamu biarkan aku menikmati pelayananmu sehingga aku terpuaskan dengan layananmu. Setelah itu, baru kamu memberitahukan aku tentang anakku.”

Keesokkan harinya, Abu Thalhah pun pergi menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang telah terjadi. Mendengar apa yang diceritakan Abu Thalhah, Rasulullah pun bersabda kepadanya, “Semoga Allah memberi berkah kepadamu berdua di malam yang telah kalian lewati itu.” Kemudian, Ummu Sulaim pun hamil.

Demikianlah, gambaran akan kesalihan dan kecerdasan Ummu Sulaim sebagai istri dari Abu Thalhah. Kesalihan dan kecerdasannya terlihat dari beberapa hal.

Pertama, bagaimana kesabarannya dalam menghadapi kematian anaknya. Kedua, bagaimana Ummu Sulaim lebih mementingkan keridhaan suaminya ketimbang kesedihannya.

Ketiga, bagaimana kelembutannya dalam menyampaikan berita kematian anaknya kepada suaminya. Dan, keempat, bagaimana ia berusaha tampil memesona di depan suaminya untuk melanggengkan jalinan keluarga dan kasih sayang di antara keduanya.

Dengan demikian, istri yang salihah lagi cerdas adalah istri yang selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya,  taat kepada suaminya selama tidak bertentangan dengan perintah Allah SWT, menyenangkan suaminya ketika ia dipandang olehnya, menjaga diri dan harta suaminya bila suaminya pergi, dan berpikir, bertutur, serta bersikap cerdas.

Sebagai seorang Muslimah dan istri, kisah di atas harus menjadi renungan dan keteladanan agar menjadi istri yang salihah lagi cerdas. Sebab, kisah di atas mengandung teladan yang realistis bagi kaum Muslimah dan istri yang salihah tentang kecerdasan yang tinggi dan akalnya yang cemerlang.

Ketika seorang Muslimah mampu menjadi istri salihah lagi cerdas ,akan menjadikan dirinya mendapatkan keridhaan Allah SWT, Rasul-Nya, dan keridhaan dari suaminya. Semua itu akan mengantarkannya meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat serta kelak dimasukkan ke surga.

Untuk itu, teladanilah kisah di atas dan pelajarilah terus bagaimana menjadi istri yang salihah lagi cerdas. Berusahalah untuk mempraktikkannya serta bermohonlah kepada Allah SWT agar diberi kemampuan untuk menjadi istri yang salihah serta memiliki kecerdasan.